Tuesday, October 23, 2007

Jujur

Salah satu bacaan favorit saya adalah Reader's Digest Indonesia, salah satu buku saku yang menurutku sarat makna terbitan Femina Group. Selain memiliki rubrik yang aku suka --kisah-kisah nyata dan lucu-- bacaan yang sering disingkat menjadi RDI ini berisi banyak sekali artikel serta tips yang aku yakin kalau teman-teman membacanya bakal mendapatkan banyak tambahan pengetahuan, informasi, dan inspirasi.

Dan inspirasi untuk postingku yang ke-152 (not bad yah, ngeblog hampir 1 tahun 9 bulan berhasil menelurkan sebanyak 151 tulisan, yang juga berarti tiap bulan kalau dirata-ratakan aku berhasil memposting 7 tulisan) adalah karya yang muncul dari hasil keisenganku memelototi huruf demi huruf yang ada di RDI edisi Oktober 2007 selama libur lebaran kemarin. Apakah inspirasi tersebut?

Bermula dari sebuah artikel yang berjudul simpel: Survei Tes Kejujuran (judul aslinya: The Reader’s Digest Global Phone Honesty Test). Dikisahkan, para peneliti dari Reader's Digest dengan sengaja menghilangkan 30 biji hape di 32 kota terpilih di dunia untuk mengetahui tingkat kejujuran orang-orang yang menemukannya. Hape-hape tersebut 'dihilangkan' di tempat umum yang cukup ramai dan mereka melakukan observasi dari jarak yang cukup jauh. Mereka akan menghubungi hape tersebut dengan harapan ada seseorang yang akan mengambil dan menjawabnya.

Selanjutnya mereka akan bertanya apakah orang yang menemukan hape tersebut bersedia untuk mengembalikan hape tersebut atau tidak. Jika bersedia, mereka akan janjian ketemu di satu titik. Namun jika orang tersebut tidak menjawab panggilan tersebut dan langsung menyimpannya, para peneliti akan menunggu untuk dihubungi balik oleh sang penemu, atau hanya bisa melihat hape tersebut melayang begitu saja.

Dan bagaimanakah hasilnya? Cukup mengejutkan, demikian kesimpulan tim Reader's Digest. Secara rata-rata, prosentase pengembalian adalah mencapai 68% atau dua pertiga dari 30 handphone dari masing-masing kota. Dan yang hebat adalah, kota yang berhasil menduduki posisi pertama sebagai kota yang paling jujur menurut survei ini adalah sebuah kota kecil sekaligus ibukota negara Slovenia, salah satu negara pecahan Yugoslavia yang baru merdeka tahun 1991 kemarin. Kota Ljubljana, inilah kota terjujur versi Reader's Digest dengan jumlah penduduknya hanya sekitar 267.000 jiwa, mengembalikan 29 hape dari 30 hape yang tertinggal tersebut. Berturut-turut setelahnya adalah Toronto-Kanada (28/30), Seoul-Korea Selatan (27/30), Stockhlom-Swedia (26/30), dan tiga kota yaitu Mumbai-India, Manila-Filipina, dan New York-AS mengekor di urutan selanjutnya dengan angka 24/30.

Mau tahu negara yang paling tidak jujur? Hmmm ... janganlah langsung berpikir kota tercinta ibu kota Republik ini bakal muncul karena Jakarta tidaklah dimasukkan dalam survei ini hehe ... Lantas, kota apakah yang paling tidak jujur itu? Yah ... tidak jauh-jauh sih dari kita, masih tetanggaan persis ama kita :) Penasaran? Semoga tidak yah. Nih aku kasih tahu jawabannya. The most dishonest city ala Reader's Digest adalah Kuala Lumpur-Malaysia yang meraih podium paling bawah bersama kota Hong Kong dengan angka 13/30.

* * *

Jujur. Sebuah kata sederhana yang sarat makna. Mudah untuk diucapkan, tapi sulit untuk dipraktekkan. Ringan untuk dilafalkan, tetapi berat untuk diaplikasikan. Gampang untuk dibicarakan, namun susah untuk melakukannya. Simple untuk dikatakan, tapi rumit untuk dilakukan. Hmm ... Setujukah teman-teman dengan pernyataan ini?

Tapi apakah benar sulit untuk hidup dalam kejujuran? Tidak usahlah membayangkan untuk berlaku jujur dalam skala besar dan kompleks. Misalnya kejujuran saat diinterogasi polisi atau dituntut jujur kala memberikan kesaksian di persidangan atau harus jujur ketika karir dan profesi kita diujung tanduk dan dipertaruhkan. Itu sebuah kondisi yang terlalu luar biasa untuk melihat sebuah nilai kejujuran.

Cobalah untuk mulai menilai diri sendiri dalam skala kecil. Yah ... yang sederhana saja. Misalnya saat kita berbelanja, kasirnya secara tidak sengaja memberikan kembalian lebih, dan kita baru tahu setelah kita meninggalkan kasir tersebut. Apakah kita berniat mengembalikan kelebihan tersebut atau justru kita gembira karena mendapat rezeki plus? Mungkin ada sebagian berkata, kalau lebihnya kecil sih aku balikin. Tapi kalo lebihnya banyak? Apakah tidak tergoda untuk langsung memasukkannya ke kantong dan beredar menjauh secepat mungkin supaya tidak muncul seberkas perasaan 'bersalah'?

Contoh lainnya, surat keterangan sakit dari dokter. Hayoo ... siapa yang pernah memalsukannya :) Bukan rahasia lagi kalau untuk yang satu ini bisa dengan mudah kita dapatkan. Dengan hanya modal beberapa puluh ribu rupiah, sebuah surat sakti bisa kita dapatkan sebagai kamuflase yang layak dipertanggungjawabkan ke perusahaan yang menerangkan: kita sakit. Padahal sesungguhnya mungkin saja kita bolos karena mau pergi atau ada urusan penting lain atau lagi malas karena malam sebelumnya bergadang sampai subuh. Namun dengan alasan supaya lebih gentle dan tidak memotong jatah cuti tahunan kita, dengan mudah kita menjadi orang yang tidak jujur dengan membuat surat keterangan palsu.

Keadaan yang sama juga layak diangkat sebagai ujian kejujuran kita. Seperti nota bensin yang kita tulis sendiri, yang benar isi 20 liter tapi di notanya tertera 25 liter. Atau karcis parkir atau tol yang sesungguhnya kita nikmati atas nama pribadi namun kita masukkan dalam daftar tanggungan kantor. Termasuk di dalamnya kuitansi palsu yang jumlah nominalnya sudah dimark-up *kalau untuk yang satu ini aku pernah alami sendiri, tapi aku cerita lain kali saja yah*

Kayaknya hal-hal seperti itu adalah sepele dan sudah lumrah karena di mana-mana orang melakukannya. Tapi sesungguhnya di sinilah ujian kebeningan nurani kita serta menunjukkan seberapa murni hati kita menilai sebuah kejujuran. Sebuah nilai moral yang pantas kita wariskan ke generasi di bawah kita untuk menyatakan: be honest is my desire and will be my attitude ...

* * *

Kembali ke hape hilang tadi, seandainya kota Jakarta masuk survei tersebut, kira-kira berapa biji yang hape yang kembali? Hmm ... penasaran saja :)

Wednesday, October 03, 2007

30

Life is begin at 30. Begitulah banyak orang berpendapat. Seperti permainan sepakbola yang turun minum paruh waktu, begitulah kira-kira usia 30 bagi perjalanan hidup manusia. Sebuah titik yang cukup krusial, karena di saat turun minum inilah merupakan kesempatan bagus untuk melihat kembali apa yang sudah dicapai selama setengah babak pertama, serta sebuah momentum istimewa untuk membuat strategi baru sebagai antisipasi melanjutkan game di babak kedua.

Pasti sudah banyak yang terjadi di paruh pertama. Baik itu suka-duka, tawa-tangis, bahagia-sedih, sukses-gagal hingga pengalaman terpuruk untuk kemudian bangkit lagi ... semuanya adalah cerminan masa lalu yang seharusnya kita lihat sebagai bagian lika liku perjalanan hidup yang harus dilakoni oleh seorang anak manusia. Ambillah hikmah dari setiap kejadian yang tidak menyenangkan, sebaliknya bersyukurlah untuk semua kejadian yang luar biasa. Dan yang terpenting, jadikanlah semua itu sebagai refleksi untuk lebih cerdas dalam terus melangkahkan kaki ke depan.

Memasuki paruh kedua, tantangan dan harapan untuk menjadi lebih baik tentu saja tetap bergema. Normalnya gema tersebut seharusnya lebih keras dan membahana, karena angka 30 berarti seseorang itu bukan lagi seorang bocah yang masih dikendalikan oleh keinginan dan keegoisan semata, namun lebih pada kemampuan dia untuk mampu menyetir hidupnya dengan asam-garam yang sudah ditelan selama ini sebagai koridor untuknya melangkah. Angka 30 juga berarti seseorang sudah berada dalam tahap puncak kedewasaan, sehingga mau tidak mau mereka harus melihat diri mereka sebagai pribadi mandiri independen, yang seharusnya sudah tahu akan dibawa ke mana diri mereka bersama segala tanggungan yang sudah dibebankan kepada mereka.

Kok sepertinya serius dan berat yah, tulisanku kali ini hehe ... Namun, itulah sejumlah perenunganku belakangan ini saat menyadari bahwa diriku sudah menghabiskan setengah jatah hidupku (dengan catatan aku bisa hidup sampai usia 60-an loh :)). Apakah aku sudah bisa menyetir kehidupanku seperti yang aku inginkan? Apakah aku sudah sedewasa seperti yang dilihat orang? Apakah benar aku sudah dan mau bercermin dari pengalaman laluku sebagai pijakan untuk melangkah ke depan? Apakah aku masih mengandalkan ego dan inginku dalam meretas jejak kakiku? Tak ketinggalan apakah yang sudah saya ukir dan hasilkan sebagai sesuatu yang mungkin berguna dan bermanfaat bagi orang lain?

Yah ... aku menghabiskan banyak waktu belakangan ini untuk merenung, merenung, merenung, dan merenung ...

* * *

Supaya ndak terkesan berat dan membosankan, aku coba yah memaparkan gimana sih seorang laki-laki yang sudah memasuki babak kedua dalam hidupnya. Ini bukan hasil riset yang melibatkan sejumlah sampel dengan koefisien kesalahan sekitar 0,001 %. Melainkan aku melihat diriku sebagai seorang pria yang aku bilang: masih berjiwa muda, dan tentu saja melihat rekan-rekan sekelilingku yang juga sepantaran denganku :)

Pertama, saat aku mengatakan sudah memasuki kepala 3, komentar orang-orang adalah SUDAH TUA. Hmm .. apa benar demikian? Yah, mungkin kalo dilihat dari tampilan fisik tidak bisa dipungkiri ada tanda-tanda tua mulai kelihatan. Yang paling jelas adalah mulai munculnya rambut albino alias uban. Aku sih tidak melihat itu sebagai salah satu ciri mulai tua, tapi aku melihatnya sebagai semakin bertambahnya kebijaksanaan dalam hidup ini. Kedengarannya lebih keren dan berbobot khan.

Dan satu hal lagi, meskipun sering dikatakan orang bahwa secara fisik orang berkepala 3 sudah tua, namun ada yang penting, yaitu jiwa atau spiritnya. Percaya deh, hampir semua laki-laki angkatan ini masih memiliki jiwa yang masih bergelora dan bergairah layaknya para remaja. Dan bahkan kebanyakan lebih liar dari mereka. Makanya itu kali sebabnya orang ngomong, life is begin at 30 yah ...

Kedua, kepala 3 berarti tanggungjawab semakin besar juga. Berbagai segi dan bidang, dari faktor pekerjaan hingga keluarga, dituntut perlunya tanggungjawab ekstra dalam melakoninya. Kelompok ini bukan lagi anak ingusan yang bisa melempar atau mengalihkan rasa tanggungjawab seenaknya. Mereka harus memikul dengan tegas apa yang sudah dipercayakan untuk dikelola. Pilihannya tidak banyak: take it and you will grow up, or deny itu and you will finish. Kelihatannya serem yah, tapi itulah realita yang harus dihadapi. Karena dengan cara demikianlah seseorang bisa tahu persis akan dibawa ke mana hidup mereka (plus keluarga untuk yang sudah menikah), dan akan menjadi apakah dia kelak di masa tuanya.

Ketiga, memasuki angka 3 berarti sudah harus mulai ekstra menjaga kesehatan. Kalau yang satu ini aku sangat setuju. Tubuh ini sudah separuh jalan, dengan kata lain pasti di beberapa bagian spare part yang ada mulai lemah dan usang. Makanya tidak heran banyak sekali penawaran obat kesehatan atau herbal atau vitamin yang mengklaim berkhasiat untuk men-servis spare part tubuh kita agar mampu berfungsi layaknya onderdil baru.

Mulailah menghindari makanan yang berkoresterol tinggi. Jauhilah untuk mengkonsumsi daging yang berlemak tebal. Singkirkanlah cemilan-cemilan yang memakai bahan penyedap. Buang jauh-jauh minuman dengan kadar alkohol tinggi. Marilah mulai menerapkan gaya hidup sehat. Perbanyak makan sayur, minum air putih, konsumsi bahan-bahan alami ... intinya jagalah kesehatan. Tentunya kita tidak mengharapkan hidup kita diintai stroke, asam urat, jantungan, diabetes, dkk? Langkah ini juga sebagai salah satu jaminan kita bisa menyelesaikan permainan di babak kedua hingga peluit panjang dibunyikan. Syukur-syukur ada injury time alias bonus hehehe ...

Next, angka 30 juga diidentikkan dengan berkurangnya daya ingat sehingga mulai pikun. Lupa meletakkan kunci di mana, bingung menyimpan file penting di arsip apa, tidak ingat kapan ada janjian dengan anak untuk jalan-jalan, bias kapan terakhir ketemuan dengan seseorang, tidak sadar pernah berjanji untuk mengerjakan proyek yang di-request teman ... hingga ada cerita nyata temanku yang menurutku sangat konyol: lupa sama anak sehingga anaknya ketinggalan di mal. Alamak!!!

Tapi benarkah demikian bahwa usia 30 orang sudah mulai pikun? Menurutku sih tidak yah. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa daya ingat seseorang semakin berkurang seiring bertambahnya usia. Tapi untuk seumuran 30 tidaklah separah itu. Kejadian-kejadian lupa seperti yang dicontohkan di atas, lebih disebabkan karena semakin kompleksnya bidang kehidupan yang harus dijalani sehingga sangat wajar ada beberapa hal yang sepertinya terlewatkan dan terlupakan. Makanya sangat disarankan kepada rekan-rekan yang sudah berkepala 3 untuk memiliki organizer. Penting itu ... supaya tidak dicap pikun oleh orang-orang :)

Selanjutnya, ada juga yang mengalamatkan angka 30 dengan bangkitnya gairah ke-2 dalam dunia percintaan. Mungkin bukan puber kedua, tapi semacam keinginan untuk lebih mengekspresikan siapakah diri mereka, terutama di mata lawan jenis. Menurutku tingkah ini sangat erat korelasinya dengan kebutuhan dasar manusia, ingin diperhatikan.

Makanya tidak heran kalau melihat esmud-esmud beredar dengan penuh gaya. Pola hidup metrosexual yang doyan 'berdandan' ala cewek dengan mudah kita jumpai. Ke-gym untuk olah tubuh supaya berotot layaknya binaragawan, berpenampilan wangi nan harum menebar pesona, bertingkah macho dengan nongkrong di kafe-kafe ... ahhh ... jadi gaya hidup lagi ceritanya hehehe. Tapi, suka tidak suka, itulah salah satu perubahan seorang pria saat memasuki kepala 3 ...

Adakah yang lain? Mohon ditambah yah ... Dan bagaimanakah cewek-cewek atau ibu-ibu menyikapi angka 30? Let me know juga yah :)

* * *

Life is begin at 30. Itulah usiaku sekarang. Dan itulah perenungan yang berkelana di pikiranku hari-hari ini. Apakah semua yang sudah aku tulis itu ada dalam hidupku sekarang? Waktulah yang kiranya akan menjawab dan menggenapinya.